TULISAN 1
Nama : Imam Purwanto
1ID02
35414222
35414222
WUJUD-WUJUD
KEBUDAYAAN YANG BERASAL DARI DAERAH PEKALONGAN
PENGETAHUAN KOTA PEKALONGAN
Pekalongan adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah yang
dilewati oleh jalur Pantura (Pantai Utara) pulau Jawa yang menghubungkan
Jakarta-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang-Semarang-Jepara-Surabaya. Pekalongan
terletak diantara 6º 50’ 42” – 6º 55’ 44” LS dan 109º 37’ 55” – 109º 42’ 19” BT (Sumber: Wikipedia) atau 6º 52’
58,52” LS dan 109º 40’ 12,46” BT (Sumber: Google Earth). Pekalongan terbagi
menjadi 4 Kecamatan, yaitu: Pekalongan Barat, Pekalongan Selatan, Pekalongan
Timur dan Pekalongan Utara. Pekalongan Barat berbatasan dengan kota Pemalang,
Pekalongan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Batang. Sedangkan Pekalongan
Timur berbatasan dengan kabupaten Batang dan Pekalongan Utara berbatasan dengan
Pantai Utara. dari keempat kecamatan tersebut, masih dibagi lagi menjadi 47
kelurahan.
Julukan
kota ini adalah Kota Batik. Batik yang dimaksud adalah bisa sebagai kota ini
adalah salah satu kota penghasil batik dengan corak yang khas dan variatif,
bisa juga diartikan sebagai Batik adalah singkatan dari: Bersih, Aman, Tertib,
Indah, Komunikatif. Mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga kota ini
terkenal dengan nuansa religiusnya.
Aktifitas adat istiadat
Ada
beberapa adat tradisi di Pekalongan yang tidak dijumpai di daerah lain yaitu:
Syawalan, Sedekah Bumi, Tari Sintren, Kuntulan, Simtud Durar dan Sya’banan.
Syawalan adalah
upacara adat bagi umat Islam yang berada di Pekalongan dan sekitarnya untuk
merayakan lebaran ke dua pada hari ketujuh setelah setelah lebaran ied fitri.
Tari Sintren merupakan
sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih
Sulasih dan Raden Sulandono. Dikisahkan bahwa Raden Sulandono adalah putra Ki
Bahurekso hasil pernikahannya dengan Dewi Rantansari. Raden Sulandono memadu
kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara
tersebut tidak mendapat restu dari ayahnya, Ki Bahurekso. Akhirnya Raden
Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian
pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam ghaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh ibu Raden Sulandono, Dewi Rantansari yang
memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono
yang sedang bertapa dipanggil rohnya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah
pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan
sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Sintren harus
diperankan oleh seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawangnya
dan diiringi 6 orang pemegang gending. pada saat ini, Tari Sintren sebagai
hiburan rakyat masih memiliki aura mistis, yang kemudian dilengkapi dengan
beberapa penari pendamping dan pelawak.
Simtud
Durar merupakan
kesenian tradisional yang bernafaskan Islam yang terpengaruh gaya bangsa Arab
dengan menggunakan Rebana dan Jidur sebagai alat musiknya. Kesenian ini
beranggotakan antara 15 orang hingga 20 orang, dengan diiringi musik mereka
melantunkan puji-pujian atau sholawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagai
ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhirat pada Allah SWT.
Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara hajatan atau selamatan
yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan
ketaatannya dalam menjalankan perintah agama.
Kuntulan merupakan
kesenian tradisional yang bernafaskan Islam yang dimainkan oleh 18 orang yang
semuanya adalah laki-laki. Posisi ke-18 orang ini dalam melakukan tarian adalah
9 orang di depan dan 9 orang di belakang. Hal tersebut dimaksudkan akan
mengandung makna Asmaul Khusna yaitu 99 sifat Allah SWT. Sya’banan adalah
upacara keagamaan/kebudayaan di daerah Pekalongan yang diselenggarakan setiap
tanggal 14 sya’ban setahun sekali untuk mengenang/mengingat jasa-jasa Sayid bin
Abdullah bin Abdullah bin Tholib Al Atas, semasa hidupnya merintis pendirian
Pondok Pesantren di Pulau Jawa.
Untuk
masalah kuliner, Pekalongan memiliki makanan khas, namanya Nasi Megono (Sego
Megono) dan Tauto (Soto Merah). Nasi Megono adalah Nasi yang di taburi nangka muda
yang dicincang kecil dan diberi bumbu (yang sebelumnya dikukus), sangat cock
untuk sarapan di pagi hari. Makanan ini enak dinikmati dengan atau tanpa lauk
tambahan. Tapi biasanya nasi megono lebih mantap jika ditambah sambal dan tempe
(tepung) goreng. Kuliner ke dua adalah Soto Merah. Kenapa disebut Soto Merah,
karena warnanya merah tua agak kehitaman. Namun kebanyakan orang Pekalongan
menyebutnya hanya Soto (tanpa Merah). Soto ini mengandung Taucho (sejenis
penyedap rasa yang dibuat dari kedelai yang dibusukkan). Terdapat berbagai
macam menu Soto Merah, diantanya Soto Merah Ayam, Daging, Jeroan dengan mie
Bihun. Soto Merah paling enak bila dicampur dengan Lontong (Nasi yang dibungkus
menggunakan daun Pisang kemudian dikukus sampai matang). Selain Nasi Megono dan
Soto Merah, Pekalongan memiliki banyak kuliner yang tidak kalah nikmatnya
seperti Garang Asem dan Keripik Tahu.
Kebudayaan Batik
Pekalongan
Batik Pekalongan
Asal Usul
asal usul batik
Pekalongan sudah ada sejak sekitar tahun 1800-an. Hal ini diperkuat oleh data
yang tercatat di Deperindag yang menyatakan bahwa pada tahun 1802 telah ada
batik Pekalongan untuk bahan baju yang bermotif pohon kecil. Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan baru
terjadi pada tahun 1925-1839 setelah adanya perang besar di Kerajaan Mataram
yang sering disebut
dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dalam perang tersebut banyak dari
para bangsawan keraton pergi meninggalkan kerajaan. Mereka menyebar ke
daerah-daerah lain di timur Pulau Jawa seperti Mojokerto, Tulungagung, Gresik,
Surabaya dan Madura. Dan, ada pula yang menyebar ke arah barat dari Kerajaan
Mataram seperti Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Di
tempat-tempat tersebut mereka tidak hanya menghindar dari serangan Belanda, melainkan
juga mengembangkan kesenian yang dahulu hanya ada di lingkungan keraton, yaitu
membatik.
Keunikan dan Pelestarian
Batik Pekalongan termasuk
batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir,
ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir
lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan
Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya
terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan
variasi warna yang atraktif.
Tak jarang pada sehelai
kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani dan kombinasi yang dinamis.
Motif yang paling populer dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik
Jlamprang. Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa,
diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar.
Biasanya pedagang batik di
daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah
masing-masing. Keistimewaan Batik Pekalongan adalah para pembatiknya selalu
mengikuti perkembangan jaman, Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir
batik dengan nama ’Batik Jawa Hokokai’ yaitu batik dengan motif dan warna yang
mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik
pagi-sore.
Pasang surut perkembangan
batik pekalongan, memperlihatkan pekalongan layak menjadi ikon bagi
perkembangan batik di nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah
dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas
kehidupan sehari-hari warga pekalongan dan merupakan salah satu produk
unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik
karena terkenal dengan produk batik, pekalongan dikenal dengan kota batik.
julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama di pekalongan.
Nilai Budaya Daerah
Batik-tulis yang diproduksi
oleh para perajin di Pekalongan jika dicermati, di dalamnya mengandung
nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan
sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain:
keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.
Nilai keindahan tercermin
dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan
keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari
proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran karena
tanpa itu tidak mungkin untuk menghasilkan sebuah batik tulis yang bagus.
Untuk sementara, sekian dulu tentang pengetahuan
kota Pekalongan dan hal lainnya yang berhubungan dengan Pekalongan, semoga
bermanfaat terima kasih.









0 komentar:
Posting Komentar